Call (62-21) 351 0132 / FAX (62-21) 351 0133

Abouts US

Latar belakang berdirinya laboratorium tempat pemeriksaan batu permata berstandar international, GRI (Gem Research International Lab) berawal dari perpaduan antara pengalaman, tanggung jawab dan gagasan akan masa depan bisnis batu pertama di Indonesia. Pendiri GRI adalah Harrys Ayub, dimana pengalaman beliau selama 29 tahun sebagai pebisnis batu permata di indonesia dan dunia Internasional adalah jaminan dan komitmen terhadap berdirinya GRI.

Selama ini beliau melihat banyak pemilik batu permata yang harus ke negara lain untuk sertifikasi batu-batu mereka, dikarenakan kurangnya kepercayaan terhadap laboratorium yang ada di indonesia. Pendirian GRI adalah jawaban terhadap perkembangan bisnis batu mulia di Indonesia. Harrys Ayub selalu berpendapat bahwa sudah saatnya Indonesia  memliki laboratorium dengan standar sertifikasi seperti yang dimiliki oleh Thailand dan Hongkong.

Kebutuhan akan laboratorium batu permata yang memiliki standar international, pemeriksaan yang baik dan berskala universal tentu sangatlah dibutuhkan pada saat ini, mengingat Indonesia memiliki potensi pasar beragam batu mulia yang cukup besar dan cukup diperhitungkan dimata international dengan populasi penduduk diatas 200 juta dan penggemar batu permata yang beraneka ragam.

 

Sertifikasi dengan tingkat akurasi adalah  jawabannya :

- Sertifikat yang dicetak diatas bahan berkualitas tinggi dengan tingkat kemanan maksimal atas pemalsuan.

- Design yang sangat eksklusif dan inovatif.

- Pelayanan yang ramah serta profesional.

- Ruang tunggu yang nyaman dan aman.

- Sistem dan tekhnologi yang baik dan berstandar international.

- Biaya pemeriksaan yang terjangkau bagi setiap orang.

- Serta 3 orang Gemologist muda lulusan on campus terbaik dari GIA

 

Adalah sebagai bentuk kepedulian kami akan perkembangan pasar batu mulia di Indonesia saat ini dan yang akan datang. kami berharap dapat terus memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya, pelayanan dan hasil pemeriksaan yang terbaik kepada para konsumen, dengan harapan dapat mewakili kredibilitas penjual atau pemiliknya atas batu permata yang mereka miliki.

Cita-cita untuk mewujudkan laboratorium permata yang dapat memberikan pelayanan seperti yang disebutkan diatas semakin memungkinkan ketika pendiri GRI ini bertemu dengan tiga gemologist muda dan brilian yang terbukti memiliki potensi, untuk bersama-sama dengannya mewujudkan harapan dan dan impiannya. Maka pada hari Sabtu, Tanggal 1 Oktober 2011, berdiri laboratorium batu permata dengan nama GRI (Gem Research International Lab) dan ditetapkan tanggal tersebut sebagai tanggal kelahirannya. Dengan harapan kehadiran GRI Lab ditengah pasar permata Indonesia, tidak akan lagi terdengar kegelisahan dan keluhan karena tidak adanya alternatif pilihan untuk sertifikasi permata yang kredibel dan terpercaya.

 

 

 

 

 


 

GRI (Gem Research International), is a Gem Identification Lab dedicated to providing quality service regarding gemstone certification. With increased awareness among consumers and traders, gem certification has become an integral part of the trade. New treatments and appearence of synthetic stones in the market has made it necessary for a gemstone to be certified from a reputable laboratory to provide its authenticity and GRI is here to provide you with this service.

 


Ragam dan Prospek Ekonomi Batu Mulia Indonesia

 

Selama jutaan tahun ada sebuah “kekuatan” besar yang tak henti hentinya membentuk permukaan planet bumi ini, membentuk dan mengikis gunung-gunung besar, melelehkan, dan merubah volume batu batuan disekitarnya. Dengan adanya proses inilah berpotensi terjadinya konsentrasi formasi batu mulia dipermukaan bumi. Pegunungan Himalaya adalah salah satu contoh terbesar dalam proses diatas, barisan pegunungan yang cukup luas meliputi Afghanistan sampai Benua Asia lainnya. Para ahli telah menemukan berbagai macam batu mulia di tempat ini, Zamrut dan Rubi di Afghanistan dan Pakistan, Safir yang cukup indah di Kashmir, Rubi di Nepal, bahkan di daratan Myanmar (Burma) mereka telah menemukan Giok dan Rubi yang terbaik didunia. Proses diatas tidak hanya kita temukan di pegunungan Himalaya saja, namun proses terjadinya konsentrasi formasi batu mulia ini dapat kita temukan di hampir seluruh daratan muka bumi. Benua Afrika dengan Berlian, Rubi, Safir, Zamrut, Chryssoberyl, Opal dan Garnetnya, Benua Eropa dengan Aleksandrit, Amber, Berlian, Zamrut, Feldspar, Garnet, dan Lapis Lazulinya, Benua Amerika dengan Safir, Turmalin, Pirus, di selatan Amerika pun dapat ditemukan batu Zamrut dan Turmalin yang terbaik di dunia, Benua Australia dengan Opal dan Safirnya, dan di Indonesia kita mempunyai konsentrasi formasi Berlian dan Kecubung (Amethyst) di Kalimantan, Opal di Jawa Barat, Mutiara di bagian timur, dan Chalcedony di hampir seluruh wilayah Indonesia, serta kualitas batu mulia di Indonesia ini tidak kalah oleh kualitas batu mulia yang terdapat di negara lain. Namun sepertinya keindahan dan kekayaan alam Indonesia ini masih belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah.


Dalam hal pengolahan sumber daya alam khususnya batu mulia, Indonesia terlihat cukup tertinggal oleh negara negara Asia lainnya seperti Myanmar (Burma). Selama 800 tahun, Myanmar telah menjadikan sebuah daerahnya yang bernama Mogok sebagai produsen Rubi. Kondisi politik di Myanmar merupakan tantangan yang cukup berat, namun sejumlah pertambangan yang berada di daerah ini pada umumnya masih bisa dimiliki dan dioperasikan lewat kesepakatan kerja sama antara pemerintah dan pengusaha swasta. Di daerah lainnya yang bernama Mong Hsu, pengelolaan tambang di daerah ini lebih bervariatif, pemilik tambang, penduduk asli pribumi, serta pejabat militer melakukan kesepakatan kerja sama dalam memberikan lahan lahan mereka kepada para pengembang yang berasal dari luar negeri. 

Thailand, di awal abad ke 19 telah menemukan sebuah tambang Safir di dua daerah yang disebut Chantaburi dan Kanchanaburi. Batu mulia yang dihasilkan oleh kedua tambang ini telah berhasil mencukupi kebutuhan pasar dunia akan permintaan Safir kelas menengah, sampai akhirnya ditahun 1990 pemerintah Thailand menutup tambang tersebut dikarenakan konsentrasi depositnya sudah mulai menipis. Dukungan pemerintah Thailand tidak sampai disini, mereka telah berhasil menciptakan negaranya menjadi pusat pengolahan, pengembangan (treatment), dan pusat pemasaran batu mulia yang didatangkan dari negara lainnya seperti Myanmar, Cambodia, Australia, Srilangka, dan Madagaskar. Perhiasan-perhiasan yang terdapat di Jepang, Amerika serikat, dan Eropa sebagian besar telah melewati pasar Thailand terlebih dahulu. Salah satu contohnya adalah Amerika serikat, hampir setengah dari produksi keseluruhan batu Safir dunia terjual ke negara ini. Tahun 2002 Amerika serikat telah membelanjakan uangnya sebesar 139 juta dolar untuk pembelian sekitar 6,5 juta karat batu Safir, dan lebih dari 5 juta karat didatangkan dari negara Thailand.


Selama menimba ilmu gemologi di Thailand, saya hampir tidak pernah mendengar dari ahli ahli gemologi disana yang membicarakan tentang konsentrasi yang cukup signifikan akan formasi batu mulia Indonesia. Saya hanya mendapatkan informasi tentang adanya penangkaran mutiara di wilayah timur Indonesia, dan setiap menanyakan tentang hal ini, mereka hanya menjawab dengan informasi yang sangat terbatas. Akhirnya duniapun lebih mengenal tambang Safir di Thailand yang hampir punah dibanding mengenal tambang berlian di Indonesia yang kualitasnya cukup bagus dan masih mampu menghasilkan kristal berlian yang cukup besar. Dari sini kita bisa lihat bahwa promosi kekayaan alam khususnya batu mulia dan dukungan pemerintah terhadap ahli geologi, gemologi, dan pengolahan tambang masih sangat rendah.


Bumi Indonesia, sering disebut dengan kalimat luhur seiring dengan keindahan dan keragamannya bagai rangkaian Zamrud Khatulistiwa, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, dan banyak kalimat luhur menghiasi aura negara Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan hasil bumi, baik yang diatas permukaan bumi, maupun didalam bumi. Batu mulia yang berasal dari Indonesia merupakan salah satu potensi alam yang masih banyak belum dimanfaatkan sebagai komoditi unggulan yang dapat mengangkat negara ini menjadi negara yang lebih maju di bidang ekonomi. Semua mata masih terpaku dengan potensi alam seputar timbunan minyak bumi, gas, dan emas. Potensi alam batu mulia terus menerus bertambah dengan adanya temuan-temuan baru seperti kecubung di Kepulauan Talaud, fosil kayu di Banten, Opal Biru di Sukabumi dan di berbagai tempat lainnya. Beberapa daerah yang memiliki batu mulia diantaranya Giok Nefrit di Aceh, Kecubung Ungu di Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat, Opal Mulia di Banten, Krisoplas Hijau di Jawa Barat, Sulawesi Tenggara dan Halmahera Selatan, Intan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau. Sayangnya, modal dasar kekayaan batu mulia yang terkandung hampir di seluruh provinsi di Indonesia yang sejauh ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, keberadaan batu mulia yang sebagian besar ada di wilayah pedesaan tertinggal menyebabkan pengusahaannya akan memiliki nilai tambah, yakni meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.

 

 


Batu mulia di tanah air sangatlah berlimpah. Tetapi, sampai saat ini pemanfaatan batu mulia sebagai komoditas masih dalam skala kecil dan bergerak dalam perjalanan mikro ekonomi. Paradigma yang berkembang bahwa batu mulia hanya sebagai gaya hidup dan bukan sebagai investasi yang dapat ikut sebagai penggerak utama perekonomian bangsa. Bahkan bila berbicara secara individu, khususnya di Indonesia, orang tertarik memiliki karena baru hobi atau sekedar senang. Lain halnya dengan emas yang sudah dipandang sebagai satu komoditas makro yang dapat menggegerkan hubungan antar negara hanya untuk memperebutkan satu tambang emas.

 


Peran pemerintah terikait dengan pemanfaatan potensi batu mulia yang tersebar di seluruh kawasan Nusantara masih belum terlihat walaupun telah keluar Keputusan Menteri Industri & Perdagangan Kepmen No.385 /MPP/Kep/06/2004 mengenai pemberdayaan potensi alam berupa kandungan batu mulia. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengungkap potensi terpendam bumi Indonesia mengenai batu mulia beberapa diantaranya yang dilakukan oleh Kementrian Ristek, Kementerian Budaya & Pariwisata, Institusi ITB dan UGM. Tetapi rupanya ini semua masih sekedar wacana, dan seremonial kunjungan-kunjungan pejabat ke pengrajin-pengrajin batu serta membawa oleh-oleh pulang ke rumah pribadi berupa bongkahan maupun bahan jadi batu mulia.


Bila dikaji lebih lanjut, pengelolaan potensi batu mulia yang serius akan membawa dampak luas di dalam rantai perekonomian Indonesia. Bayangkan saja apabila potensi ini dikembangkan, dampaknya adalah :


a. angka pengangguran menurun,


b. bertambahnya pajak bagi negara,


c. menambah komoditas ekspor barang mentah,


d. peningkatan pendapatan daerah, dan


e. Indonesia tidak hanya sebagai negara pengimpor, namun sebagai negara yang dapat menunjukkan jati diri untuk tidak tergantung pada negara lain. Memang, untuk mengelola dengan serius satu potensi negara sangat diperlukan satu moment dimana negara ini bisa bertransformasi dan kembali pada tujuan negara ini, bukan hanya sebagai negara merdeka, tetapi juga untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur ini masih terkendala dengan sistem yang sangat rumit. Ini hanya sebagai masukan saja bahwa sebenarnya, berbicara tentang batu mulia tidak hanya berbicara masalah tuah, klenik, jimat, atau hanya perhiasan belaka, tetapi rupanya ada yang lebih penting yaitu bagaimana mewujudkan bahwa ini adalah anugerah Illahi, yang pemanfaatannya dapat meningkatkan taraf hidup dan kemakmuran ekonomi Indonesia.


Martapura merupakan sebuah kecamatan produktif yang terletak di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Daerah ini terkenal sekali dengan kekayaan alam batu mulianya atau intan berliannya, sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa Martapura merupakan wilayah pusat intan. Daerah ini menjadi pusat intan karena terkenal dengan olahan intan berliannya dan kreasi bentuk olahan batu mulianya yang indah. Martapura sering menjadi rujukan wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menambah koleksi intan berlian. Hal ini bertolak belakang dengan informasi yang saya dapatkan selama menimba ilmu Gemologi di Gemological Institute of America (Thailand), sehingga menyadarkan kita bahwa informasi mengenai batu mulia di negeri tercinta ini belum tersebar memasuki dunia pendidikan gemologi internasional.


Jawa Barat dan Propinsi Banten memiliki potensi tambang batu mulia yang cukup besar jika dilihat dari kontur kandungan mineral di dalam bumi. Jawa Barat memiliki jalur magma yang mungkin berusia sekitar 1-28 juta tahun yang lalu pada lempengan bagian selatan, yang telah membeku dan pengalami pendinginan, pengkristalan, dan tekanan dari perut bumi. Selain itu di lokasi ini terdapat cadangan fosil kayu (kayu yang telah membantu), dan ini tergolong sangat langka, karena sudah terpendam hampir jutaan tahun didalam bumi. Salah satu Batu yang terkenal yang dihasilkan dari Jawa Barat ini adalah Batu Opal/Kalimaya. Batu ini memiliki keunikan dari paduan warna yang dihasilkan. Semakin tinggi karat yang dihasilkan semakin mahal harga pasarannya. Selain Batu Opal/Kalimaya, dihasilkan juga Agate/Akik, Fosil Kayu, Kristokola, Kecubung, Opal Biru, Jaspis, dan lain-lain.


Pulau Bacan Maluku Utara, bahan galian batu mulia yang dijumpai di wilayah ini terdiri dari beberapa jenis mineral silikat yang dapat digunakan sebagai bahan baku batu permata atau batu hias. Selain bahan galian logam, sumber daya bahan galian non-logam di daerah Maluku Utara juga cukup potensial. Kekayaan sumber daya tersebut cukup beragam baik jenis, potensi maupun sebarannya dan didukung oleh lingkungan kondisi geologi daerah setempat yang memungkinkan terbentuknya berbagai bahan galian non-logam seperti bahan bangunan, bahan keramik, batu mulia dan mineral indusif. Bahan galian tersebut dapat dikatakan merupakan komoditas non-migas yang diandalkan dan diharapkan dapat dikembangkan di masa datang. Secara umum jenis mineral ini dikenal dengan sebutan sebagai Krisokola. Jenis batu mulia yang terdapat di daerah ini terdiri atas Krisopras, Krisokola, dan Jaspis. Tiga daerah diatas adalah salah satu contoh kecil akan kekayaan alam Indonesia.


Dikarenakan adanya prospek yang cerah akan batu mulia Indonesia, semuanya tidak luput dari eksistensi dan keberadaan para penambang dan pengrajin yang secara turun temurun bergelut pada aktivitas tersebut. Permasalahan klasik yang utama adalah pola dan sistem yang dipakai masih menggunakan sistem sederhana dan menggunakan peralatan sederhana pula, hal ini sangat bertolak belakang dengan negara-negara seperti Thailand dan Burma yang sudah menggunakan alat alat modern. Pengolahan batu mulia memiliki potensi yang sangat besar untuk menarik penanam modal untuk berinvestasi di Indonesia, dapat dilakukan dengan cara tradisional sampai yang padat modal.




Pengolahan batu mulia, tidak hanya terbatas untuk perhiasan, namun dapat diolah juga untuk beragam souvenir seperti plakat, gantungan kunci, bahkan lukisan. Sementara itu pangsa produk batu mulia sendiri, untuk di dalam negeri, cukup potensial. Dari survei yang dilakukan DPP-MBI pada 1989, dari 1.096 responden yang berasal dari beberapa strata dan golongan masyarakat, 58% menyenangi dan memiliki batu mulia dengan perincian 31% untuk remaja, 59% PNS, 80% santri, dan 81% pengusaha. Meskipun pangsa luar negeri belum terjangkau, namun di dalam negeri, batu mulia itu memiliki captive market yang sayangnya, masyarakat belum menyadari hal tersebut. Mereka lebih memilih menjual dalam bentuk bahan mentah untuk dijual ke luar negeri. Sejak sekitar 15 tahun terakhir, eksploitasi bahan mentah batu mulia itu, berlangsung tanpa kendali di banyak wilayah Indonesia. Bahan mentah itu sebagian besar diekspor ke Taiwan, Korea, Jepang, Australia, China dan Amerika Serikat. Pengusaha asing yang menetap di Sukabumi, sampai saat ini terus saja menampung bahan mentah dari Banten. Bahkan, beberapa kabupaten di Jawa Barat menjual dengan harga sangat murah untuk fosil-fosil kayu sederhana dengan harga Rp. 200 per kg dan Rp. 1.000 kg untuk fosil kayu Opal, Jaspis Merah, dan Kecubung. Seorang pengusaha Jepang dalam waktu setahun mampu mengevakuasi 3.000 ton batu panca warna di Tasikmalaya Selatan. Lebih ironis, beberapa tahun yang lalu, seorang bupati melepas ekspor perdana bahan mentah batu mulia itu sebanyak lima truk dari kecamatan Bayah, Banten.


Keadaan ini sangat memperihatinkan, meskipun tidak mempunyai bahan baku di negaranya, sekitar 0,15% penduduk Hongkong bergerak dalam usaha kerajinan batu mulia. Sedangkan Indonesia yang berlimpah ruah bahan mentah batu mulia, hanya ada 3.000 pengrajin batu mulia saat ini. Jika saja 0,15% itu di Indonesia, maka penduduk Indonesia yang menikmati usaha itu, mencapai 400.000 orang. Upaya pemerintah untuk menyadarkan masyarakat dan instansi serta institusi pendidikan terkait melalui berbagai media seperti media cetak, media elektronik dan penyuluhan belum membuahkan hasil, bahkan yang paling mengkhawatirkan adalah kegiatan eksploitasi bahan mentah itu untuk diekspor. Walaupun Kepmen tentang aturan ekspor telah diperbaharui namun pengawasan ekspor terutama bahan mentah batu mulia harus ditingkatkan.


Upaya untuk mengurangi aksi buruk yang tidak menguntungkan itu bukan tidak mungkin. Aksi vandalisme bahan mentah batu mulia berupa fosil kayu di Thailand dapat dikurangi dengan berbagai langkah positif oleh Departemen Sumber Daya Mineral Thailand. Pada tahun 1999, Thailand mendirikan museum dan pusat penelitian fosil kayu dan mineral di Provinsi Nakhon Ratchasima. Tempat ini kemudian berkembang menjadi pusat pelestarian fosil kayu dan mineral yang terbuka untuk para peneliti dan kunjungan umum. Begitu juga di Amerika Serikat, vandalisme serupa pernah terjadi di Arizona dan Missisipi namun semuanya dapat ditekan, karena pada tahun 1963, kawasan fosil kayu Arizona itu dinyatakan sebagai taman nasional disusul yang kemudian di Missisipi pada tahun 1966. Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat kemudian mengeluarkan larangan eksploitasi fosil kayu dari wilayah tersebut dengan ancaman hukuman berat. Perubahan status lahan menjadi taman nasional itu membawa berkah bagi masyarakat dan pemerintah Amerika Serikat, tidak kurang dari dua juta wisatawan mengunjungi taman nasional tersebut setiap tahunnya. Model yang diterapkan seperti di Thailand dan Amerika Serikat ini perlu untuk segera diterapkan di Indonesia agar sumber daya mineral yang tidak terbarukan ini dapat dilestarikan dan dimanfaatkan secara optimal.


Selain permasalahan tersebut, mahalnya harga suku cadang seperti pisau diamond, gurinda, ampelas, obat poles, dan lain-lain pada awal dan selama krisis ekonomi membuat ratusan pengrajin mandiri di Sukabumi, Garut dan Pacitan menghentikan kegiatannya dan mengalihkan usahanya menjadi penjual bahan mentah batu mulia atau ke bidang-bidang lainnya. Untuk itu, sudah saatnya pemerintah mulai melirik usaha kerajinan batu mulia, sebelum terlambat. Jangan sampai suatu saat nanti, kita mendapatkan batu mulia yang berasal dari Indonesia justru dari di luar negeri, yang bahkan di negeri sendiri pun nanti kita tidak menemukannya.


Ada beberapa hal yang dapat menjadikan potensi batu mulia sebagai salah satu aspek ekonomi obyektif untuk dapat meningkatkan taraf perekonomian rakyat dan pendapatan bagi daerah yang memiliki potensi adalah sebagai berikut :


1. Melakukan kontroling dalam rangka konsisten terhadap Kepmen No.385/MPP/Kep/06/2004 yang intinya tentang pelarangan ekspor batu mulia khususnya fosil kayu dalam bentuk bahan mentah atau bahan setengah jadi.


2. Menjadikan potensi batu mulia sebagai salah satu hal yang harus di analisis lebih mendalam untuk pengembangannya sehingga dapat menarik investor baik dalam negeri maupun luar negeri.


3. Mengembangkan sentra-sentra produksi batu mulia yang masih sporadis dan berskala kecil sehingga pemberdayaannya dapat menambah lapangan kerja, menambah pendapatan daerah dan menambah pendapatan dari sisi pajak.


Sebenarnya masih banyak yang ingin saya paparkan, paling tidak sekelumit informasi ini dapat menambah wawasan ekonomi bangsa. Terlepas dari asal muasal batu permata ataupun batu akik dengan segala unsur alam, dan non alam yang dimiliki, pelajaran yang dapat kita kutip disini adalah bahwa Sang Pencipta memberikan anugerah kekayaan dalam perut bumi yang tidak ternilai keindahannya dan memberikan keindahan di permukaan bumi serta meratakan rejeki bagi para pelaku bisnis batu mulia. Marilah bersama kita kembangkan potensi batu mulia sebagai investasi baik dalam negeri maupun luar negeri dengan lebih memberikan perhatian khusus terhadap ahli geologi, ahli gemologi, para penambang, dan para pengrajin batu mulia Indonesia.

 

 

Mohammad Taslim, GG

 

 

 

 

 

Nama               : Dharma

 

Pekerjaan       : Herbalist

 

Asal                 : Jakarta

 

Tanggapan tentang GRI-LAB :

 

Bagus pelayanannya,hasil pemeriksaan juga cukup akurat,suasana tempat sangat nyaman,juga hubungan terhadap pelanggan cukup ramah.

id card maupun sertifikat cukup dapat di pertanggung jawabkan keasliannya.

untuk keamanan sampai saat ini sangat Ok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama               : Ayoung

 

Pekerjaan       : Gemstone Dealer

 

Asal                 : Jakarta

Tanggapan tentang GRI-LAB :

 

1.foto the best sesuai batu aslinya

2.tempat tunggu yang nyaman,enak sekali..

3.ramah,akrab,berkelas.

4.best dalam gemologist..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama           : Ahmad Reza

 

Pekerjaan   : Gemstone Dealer

 

Asal             : Jakarta

Tanggapan tentang GRI-LAB :

 

GRI ? gimana yah..,kalo saya di tanya tentang  GRI-Lab,yah ..GRI buat saya adalah lab batu permata yang baru terbit di Indonesia dengan 3 Gemologist muda,dan fasilitas Lab yang lengkap untuk standar Internasional,jadi buat saya GRI adalah yang terbaik  di indonesia di karenakan kemungkinan human error-nya sangat sedikit (hampir tidak ada),selama ini mereka selalu memberikan yang terbaik buat customernya,so from now on i only make my gemstone certificate in GRI, "We tell you the truth" (dapat kekeran lagi) haha wkwkwkwk....

 

 

 

 

 

 

Nama          : Sastro Miharjo

 

Pekerjaan  : Karyawan

 

Asal            : Jakarta

Tanggapan tentang GRI-LAB :

 

Simple quote about GRI-Lab "professional lab with helpfull team,walaupun baru di bandingkan Lab-Lab lainnya,saya lihat konsep dan service GRI-Lab memberi terobosan bagi dunia Lab gemology,soon GRI will become one of the biggest trusted lab in indonesia,Sukses GRI-LAB..
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama          : Sigit Julian

 

Pekerjaan  : Karyawan

 

Asal            : Serang Banten Tangerang

Tanggapan tentang GRI-LAB :


Terima Kasih GRI

 

Barang udh kembali dengan aman bos,pelayanan Ok bgt & terpercaya...
 
recommended lab. Sukses selalu GRI Proses cepat, pelayanan TOP,
 
gak kalah penting harga terjangkau

 

 

 

 

 

 

Nama          : Muhammad Fauzi Azmi

 

Pekerjaan  : Gemstone Dealer

 

Asal            : Medan

Tanggapan tentang GRI-LAB :

 

Alhamdulillah akhirnya allah tunjukkan lab terbaik dan amanah dalam menjaga kepercayaan customer untuk kita semua,GRI lab adalah lab untuk batu permata yg sangat profesional dengan pelayanan admin yg ramah dan sangat baik dalam memberikan info tentang keberadaan permata yg kita kirim.jadi kita akan merasa nyaman dgn permata yg kita kirim.maju terus GRI pertahankan dan tingkatkan pelayanan kepada customernya semakin baik lagi..saya yakin GRI  akan mampu menjadi lab terbaik di indonesia..

 

 

 

 


 

 

Ada beberapa alasan mengapa kalimat "We tell you the truth"  akhirnya dipakai sebagai motto oleh GRI Lab, setelah begitu banyak pemikiran, pertimbangan serta usulan, diantaranya sesuatu yang berhubungan dengan integritas dan kebutuhan.

Pertama:

Ada pesa yang ingin kami sampaikan bahwa, apa yang kami sampaikan sesuai dengan apa yang kami dapat dari hasil pemeriksaan, suka atau tidak, tapi itulah kebenarannya.

Kedua:

Konsumen berhak mengetahui kebenaran dari hasil pemeriksaan kami, dikarenakan mereka mengeluarkan biaya untuk batu permata milik mereka yang telah mereka percayakan pemeriksaannya di lab. batu kami

Ketiga:

Kami ingin meyakinkan dan memastikan serta menegaskan kepada para konsumen, bahwa hasil pemeriksaan kami tidak ada intervensi dari pihak manapun.

Keempat:

Kalimat "We tell you the truth" memotivasi gemologist yang terlibat bersama sama di GRI Lab melakukan pemeriksaan dengan sungguh-sungguh, dengan penuh rasa tanggung jawab serta tidak akan terlibat permainan dengan pihak tertentu.

Kelima :

"We tell you the truth" adalah kalimat yang tepat dengan tujuan yang tepat, agar sertifikat dari salah satu Lab batu permata di Indonesia bisa diterima dan diakui dalam skala internasional.

Keenam:

"We tell you the truth" mewakiili definisi dari Integritas, Ambisi, Visi dan Misi.